Surakarta, Oktober 2025 — Tim dosen Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Jurusan Psikologi dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kegiatan Penguatan Mutu Berbasis Prodi 2025. Kegiatan ini mengangkat tema “Psikoedukasi Islami Berbasis Pemetaan Kecerdasan (CFIT) sebagai Strategi Penguatan Islamic Well-Being Siswa” dengan subtema “Actualization of Islamic Well-Being.” Kegiatan dilaksanakan di MAN 3 Boyolali dan bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa madrasah mengenai pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kesejahteraan spiritual-mental dalam bingkai nilai-nilai Islam.
Usai pembukaan oleh tim dosen bersama kepala madrasah dan para guru di Masjid MAN 3 Boyolali, kegiatan diawali dengan pelaksanaan tes CFIT (Culture Fair Intelligence Test) di beberapa kelas. Tes ini berada di bawah pengawasan Tim Asesmen Psikologi dari Pusat Layanan Psikologi Taqwiya UIN Raden Mas Said Surakarta. Suasana kegiatan berlangsung serius namun tetap hangat. Tim asesmen memberikan pengarahan teknis tentang tata cara pengerjaan serta tujuan pemetaan kecerdasan. Para siswa mengikuti dengan antusias dan penuh konsentrasi, menunjukkan kesungguhan mereka untuk mengenali potensi kognitif masing-masing.

Tes CFIT ini tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur kemampuan intelektual, tetapi juga sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran diri siswa terhadap kekuatan berpikir dan gaya belajar mereka. Hasil pemetaan nantinya menjadi dasar dalam perancangan strategi pendampingan psikologis dan penguatan motivasi belajar agar siswa dapat berkembang sesuai potensi unik yang mereka miliki.
Tim dosen yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Vera Imanti, M.Psi., Psikolog, bersama Lintang Seira Putri, M.A., Maharani Tyas Budi Hapsari, M.Psi., Psikolog, dan Yesi Ihdina Fityatal Hasanah, S.Si., M.Farm. Program ini bertujuan memberikan psikoedukasi Islami kepada remaja agar mampu mencapai Islamic well-being dengan menyeimbangkan aspek spiritual, mental, fisik, dan sosial.
Dalam pemaparannya, Vera Imanti menjelaskan bahwa kesejahteraan dalam Islam tidak sebatas kebahagiaan lahiriah, tetapi meliputi keselarasan antara hati, pikiran, dan hubungan sosial yang berlandaskan nilai-nilai tauhid. “Setiap aktivitas yang dilakukan dengan niat ibadah adalah jalan menuju kesejahteraan sejati,” ungkapnya.
Kegiatan psikoedukasi ini mengintegrasikan ajaran Islam dengan praktik well-being modern melalui lima langkah utama yang mudah dipraktikkan oleh remaja dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama, Connect, mengajak siswa menjalin koneksi dengan Allah SWT melalui zikir, doa, dan ibadah, sekaligus mempererat hubungan dengan sesama lewat kasih sayang dan empati. Langkah kedua, Be Active, mengajak remaja untuk aktif dan produktif, menggunakan tenaga serta waktu dengan niat ibadah—mulai dari olahraga hingga membantu orang tua di rumah.

Langkah ketiga, Take Notice, menekankan pentingnya kesadaran dan rasa syukur dalam setiap momen kehidupan. “Kesadaran penuh dalam Islam berarti hadir sepenuhnya dengan hati yang sadar akan kehadiran Allah di setiap aktivitas,” terang Lintang Seira Putri. Langkah keempat, Keep Learning, menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat, baik dalam bidang ilmu dunia maupun ilmu agama, agar remaja mampu mengenal diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan langkah kelima, Give, menekankan pentingnya memberi dan berbagi kebaikan dalam berbagai bentuk—materi, waktu, tenaga, maupun senyuman tulus.
Menurut Maharani Tyas Budi Hapsari, kelima langkah ini saling berkaitan dan membentuk siklus kesejahteraan yang berkelanjutan. “Well-being dalam Islam bukan hanya hasil akhir, melainkan perjalanan spiritual menuju keseimbangan hidup,” jelasnya.
Melalui sesi interaktif, para siswa diajak melakukan refleksi diri tentang kebiasaan harian mereka dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual. Suasana menjadi hidup ketika para peserta berbagi pengalaman tentang praktik sederhana seperti menjaga koneksi hati dengan Allah, berbagi senyum, atau bersyukur atas hal-hal kecil dalam kehidupan.
Dalam sesi penutup, Yesi Ihdina Fityatal Hasanah menegaskan bahwa penerapan lima langkah tersebut merupakan bentuk nyata “living Islam” — menjadikan setiap tindakan sebagai ibadah. “Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat ikhlas adalah investasi untuk kebahagiaan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Prodi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Raden Mas Said Surakarta untuk menghadirkan program pengabdian berbasis riset dan nilai-nilai Islam yang aplikatif. Melalui pendekatan psikoedukatif, program ini diharapkan dapat membantu remaja Muslim membangun karakter tangguh, hati yang tenang, dan kehidupan yang bermakna.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, tim dosen Tasawuf dan Psikoterapi menegaskan bahwa kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai dengan menyatukan ilmu, iman, dan amal dalam setiap langkah kehidupan. Program ini menjadi wujud nyata upaya akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta dalam mewujudkan generasi muda madrasah yang berdaya, berakhlak, dan bahagia dalam ridha Allah SWT.
Komitmen Pelaksanaan TAS Yang Lebih Baik, FUD Koordinasikan Hal Ini
2 hari yang lalu - Umum