Loading...

Penguatan Mutu Berbasis Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, “Tantangan Belajar Ilmu Tafsir di Era Artificial Intelligence”

28 Oktober 2025 12:01 WIB 24
Baca



Surakarta, 14 Oktober 2025 — Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kegiatan Penguatan Mutu Berbasis Program Studi dengan mengusung tema “Tantangan Belajar Ilmu Tafsir di Era Artificial Intelligence.” Kegiatan ini bertempat di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, wilayah Laweyan, Jawa Tengah.

Acara ini diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri atas mahasiswa, santri, pengasuh pondok, dan masyarakat umum. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi IAT dalam memperkuat mutu akademik yang relevan dengan tantangan era digital, serta menjembatani antara tradisi keilmuan pesantren dan dunia akademik universitas.

Kegiatan dimulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dengan rangkaian acara pembukaan, sambutan, penyampaian materi, dan diskusi interaktif. Turut hadir tim pelaksana kegiatan, yaitu Prof. Dr. H. Abdul Matin, Lc., M.Ag, Dr. Hj. Ari Hikmawati, S.Ag., M.Pd, H. Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, dan Nurul Aulia, M.H.

Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ari Hikmawati, S.Ag., M.Pd menekankan pentingnya inovasi dalam pembelajaran tafsir serta kolaborasi lintas bidang untuk menjawab tantangan era digital. Menurutnya, penguatan mutu tidak hanya berbasis teori, tetapi juga harus berorientasi pada kemampuan adaptif terhadap teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam studi tafsir.

Sementara itu, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, M.H, selaku pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa kerja sama antara pesantren dan universitas merupakan langkah konkret dalam membangun jembatan antara dua tradisi keilmuan Islam yang saling melengkapi: pesantren dengan kekayaan sanad dan metode klasiknya, serta universitas dengan kekuatan riset dan metodologi ilmiahnya. Sinergi keduanya diharapkan dapat melahirkan model pembelajaran tafsir yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Sebagai narasumber pertama, Prof. Dr. H. Abdul Matin, Lc., M.Ag memaparkan dinamika perkembangan tafsir dari klasik hingga kontemporer serta menyoroti peluang dan risiko penggunaan teknologi AI dalam studi tafsir. Menurutnya, kecerdasan buatan dapat membantu analisis teks, namun tetap diperlukan kebijakan akademik yang mengatur penggunaannya agar tidak menimbulkan bias dan penyimpangan nilai etis.

Narasumber kedua, H. Tsalis Muttaqin, Lc., M.S.I, menyoroti tantangan metodologis dalam memahami makna Al-Qur’an melalui platform digital. Ia mencontohkan berbagai aplikasi berbasis tafsir digital dan AI, seperti chatbot tafsir serta analisis semantik berbantuan AI. Dalam diskusi, peserta mengajukan sejumlah pertanyaan menarik, seperti:

  • Bagaimana AI dapat diintegrasikan dalam studi tafsir?

  • Apakah AI mampu memahami makna ruhani dan kontekstual dari Al-Qur’an?

  • Bagaimana mengatasi tantangan plagiarisme dan validitas sumber digital?

Menanggapi hal tersebut, para narasumber menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti otoritas keilmuan. Oleh karena itu, diperlukan kurikulum adaptif dan pelatihan bagi dosen serta mahasiswa untuk menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan Penguatan Mutu Berbasis Program Studi ini, diharapkan akan lahir rekomendasi kebijakan dan pedoman penggunaan AI di lingkungan akademik, khususnya dalam pengembangan ilmu tafsir. Program Studi IAT berkomitmen untuk terus berinovasi dan menjaga relevansi keilmuan tafsir dalam menghadapi dinamika era kecerdasan buatan.