
FUDNews - Mengangkat tema Tafsir Al Qur'an dan Transformasi Sosial: Peran Sosiologi-Antropolgi dalam Menjawab Tantangan Modernitas", Program Studi (Prodi) Ilmu Al Qur'an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) menggelar Seminar Nasional setengah hari. Dimulai pagi ini (Senin, 27/4/2026). Seminar yang menghadirkan para narasumber akademisi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri dan Perguruan Tinggi Negeri dari Yogyakarta ini diikuti oleh para dosen dan mahasiswa jurusan ushuluddin dan humaniora, serta para peneliti umum kajian Islam dan sosial budaya.

Memberikan sambutannya sesaat sebelum membuka secara resmi acara seminar nasional ini, Dekan FUD UIN Surakarta, Dr. Kholilurrohman menyatakan bahwa bagaimanapun juga Al Qur'an adalah kitab yang wajib untuk menjadi pegangan bagi seluruh umat Islam. Oleh karenanya, seluruh umat Islam hendaknya mempelajari tafsir dari berbagai sumber yang bisa dipercaya, yang dalam hal ini jelas sanad-nya. Dekan yang dalam kesehariannya juga seorang pengkaji dan pendakwah Al Qur'an ini secara tegas menyatakan bahwa sampai kapanpun Al Qur'an akan selalu relevan dengan segala kondisi dan keadaan jaman. Jika ada orang yang masih bicara tentang kekurangan kitab suci ini, bisa jadi karena dirinya belum mengkaji kitabullah ini secara totalitas.
"Tafsir Al Qur'an tidak cukup hanya dipahami secara tekstual saja, tapi perlu dikembangkan secara kontekstual juga" papar Dekan FUD lebih lanjut. Dirinya mendukung bahwa adanya pendekatan sosiologi dan antropologi memiliki kontribusi penting dalam memperkaya studi tafsir Al Qur'an. Kedua pendekatan itu menjadikan tafsir Al Qur'an lebih responsif terhadap realitas sosial sekaligus menjembatani antara teks dan konteks.

Dalam paparannya, para pemateri menyoroti tentang Al Qur'an yang berperan dalam transformasi sosial melalui perspektif tradisi diskursif dan antropolgi inderawi. Oleh karenanya makna Al Qur'an tidak berdri sendiri tetapi dibentuk oleh praktik, sejarah, dan konteks sosial sehingga tafsirnya merupakan tindakan sosial. Sebagai praktik sosial, Al Qur'an bukan sekedar teks belaka. Artinya bahwa Al Qur'an diproduksi, disebarkan, dan digunakan dalam dinamika masyarakat bukan berdiri netral. Adapun relasi kuasa memengaruhi produksi dan legitimasi tafsir. Melalui teori Foucoull dan Talal Asad, tafsir dapat menjadi alat kekuasaan, baik dalam membentuk "kebenaran", mengontrol, wacana, maupun melegitimasi kebijakan.
Dari seluruh paparan para pemateri, dapat disimpulkan bahwa Al Qur'an tidak hanya sebagai teks saja, tapi sebagai praktik sosial yang maknanya dibentuk oleh konteks, sejarah, dan relasi kuasa. Melalui perspektif diskursif dan antropolgi inderawi, Al Qur'an berperan dalam transformasi sosial melalui praktik, pengalaman indera, serta dinamika masyarakat yang terus membentuk dan menggunakan tafsir dalam kehidupan sehari-hari. (Editor : Tris) Foto : Istimewa
Komitmen Pelaksanaan TAS Yang Lebih Baik, FUD Koordinasikan Hal Ini
2 hari yang lalu - Umum