FUDNews - Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta menggelar acara peringatan 40 hari wafatnya Prof. Dr. H. Syamsul Bakri, S.Ag., M.Ag. pada Senin (06/10). Acara ini dikemas dalam bentuk refleksi bertajuk “Ziarah Rasa dan Warisan Makna: Menyelami Pemikiran Prof. Dr. Syamsul Bakri, M.Ag.” yang berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Acara yang diselenggarakan di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah ini dipandu oleh Krisbowo Laksono, M.Hum, Koordinator Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), selaku moderator. Ia membuka forum dengan mengajak seluruh peserta untuk tidak sekadar mengenang sosok almarhum, tetapi juga menelusuri dan menghidupkan kembali gagasan serta pemikiran beliau yang begitu luas dan mendalam.

Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut untuk berbagi kenangan dan pandangan akademis mengenai sosok Prof. Syamsul Bakri.
Narasumber pertama, Prof. Dr. Yusup Rohmadi, M.Hum, menceritakan kedekatannya dengan almarhum yang sudah terjalin sejak masa kuliah hingga berkarier bersama di UIN Raden Mas Said. “Memahami pikiran dan gagasan manusia itu tidak mudah, harus dilihat dari berbagai sisi atau secara multidimensi. Begitu pula dengan Prof. Syamsul. Dalam pandangan saya, beliau adalah sosok yang sangat gemar membaca. Referensi bacaan beliau jauh di atas rata-rata mahasiswa pada masanya,” ujarnya.

Narasumber kedua, Prof. Dr. Mudhofir, M.Pd., juga menuturkan kedekatan persahabatannya dengan almarhum. “Banyak yang mengatakan, di mana ada Prof. Mudhofir, di situ ada Prof. Syamsul,” ungkapnya sambil tersenyum mengenang sahabatnya. Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam menghadapi musibah, manusia akan melewati empat fase: penyangkalan, penyesalan, kesadaran, dan penerimaan. “Prof. Syamsul, di akhir hidupnya, telah mencapai fase penerimaan — menerima dengan ikhlas meskipun dalam kondisi sakit,” tambahnya penuh haru.
Narasumber ketiga, Halintar Shah R, M.Pd., alumni Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ummul Quro Boyolali, turut memberikan testimoni sebagai murid almarhum. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap keluasan wawasan dan kedalaman pemahaman akademis Prof. Syamsul. “Beliau bukan hanya seorang dosen, tapi juga pembimbing ruhani dan intelektual. Kecintaan beliau pada ilmu membuat kami, para mahasiswa, selalu termotivasi untuk terus belajar dan berpikir kritis,” tuturnya.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk almarhum, diiringi suasana haru dan rasa kehilangan yang mendalam. Melalui kegiatan ini, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah berharap semangat keilmuan, keteladanan, serta pemikiran Prof. Dr. H. Syamsul Bakri dapat terus hidup dan menginspirasi civitas akademika UIN Raden Mas Said Surakarta. (humasFUD)